KESATRIA
Hemh aku tak tahu harus menuliskan apa. Karena ini adalah sebuah kisah kehidupan tentang diriku. Sebuah skenario yang diukir oleh Tuhan yang menurutku sangat tidak menarik. Tapi entah mengapa hidup yang aku anggap membosankan ini menjadi hal yang istimewa untuk orang lain, terlebih uantuk teman – temanku. Aku selalu menjalani kehidupan dengan biasa, berangkat sekolah dengan biasa, mengikuti les privat sehabis sekolah seperti biasanya pula. Ah hidup yang serba biasa.
Aku menghela nafas dalam – dalam, seolah hal ini mampu mengurangi beban yang menggumpal saling berdesakan didalam dada ini. Kupejamkan mata dengan erat. Sesekali kulirik jam weker yang berdiri dengan tegap diatas meja belajarku, manunjukkan pukul 04.30. Seperti biasanya pula aku selalu bangun lebih awal sebelum alaram jam ku itu berdering.
“Sat....satria sayang...???! bangun nak”, suara mama terdengar berulang kali membangunkanku..
“Hemh...”, kujawab dengan erangan.
“Satria...., ayo bangun nak...??!!”, sekarang mama mulai mengetuk pintu kamarku.
“Iya ma.... Satria sudah bangun kok”, suaraku terdengar sedikit parau.
“O... ya udah. Cepat mandi terus ganti baju, lalu sarapan. Itu sudah disiapin mbok Nah dibawah.
“Hemh...”, kembali aku menghela nafas panjang. “Iya....”, jawabku sedikit bosan. Lantas kusambar handuk dan mandi untuk menyegarkan kepenatan dikepala ini.
*
“Satria berangkat dulu ma...??”, pamitku kepada mama yang sedari tadi sibuk mempersiapkan perlengkapanku. Pernah suatu ketika aku mengeluh kepada mama. Mengapa mama yang harus repot mempersiapkan semua kebutuhanku, sementara aku sendiri tidak pernah ambil pusing dengan semua ini.
“Inikan agar kamu tidak bingung kalau disekolah, nak!! Jadi semua perlengkapan kamu harus dipersiapkan.
Aku hanya menirukan perkataan mama dengan mimik muka yang lucu. Dan terkadang hal ini membuat mama sebal dan menjewer kupingku.
Sementara didepan sana Pak Man, sopir pribadiku selalu setia mengantarkan kemanapun aku pergi. Kesekolah, cari buku bahkan ketika aku bermain kerumah teman sekalipun. Aku yang sudah menginjak kelas 2 SMA ini seakan tidak ada dedanya sengan anak kelas 2 SD, yang harus diatur segala sesuatunya.
*
“Hazoo browww..., lagi ngapain??!! Siang – siang begini malamun. Mikirin apaan sih kamu??”, Radja sahabat karibku datang dengan tiba – tiba mengagetkanku.
“Ups....aduh...Rese Lu...??!!!”, aku benar – benar terkejut dibuatnya. Dengan refleks tinjuku melayang dibahu radja.
“Aduh....Sat??!! sakit???!!”, Radja sedikit meringis menahan sakit dibahunya akibat tinjuku. Aku hanya tersenyum melihat mimik muka cowok berambut jabrik itu.
“Salah sendiri, siapa suruh kamu ngagetin aku. Jadi ya jangan salahkan aku dong kalau hasilnya seperti ini. Sory Radj, lagian ini juga nggak disengaja. Maklum refleks...he...he...???!!”, aku hanya tertawa terkekeh melihatnya.
Memang disekolahku ini hanya Radja yang mampu membuatku tertawa. Karena tingkahnya yang konyol. Mulai dari disiram es sama Siska adik kelasku gara – gara Radja memanggilnya dibablaskan menjadi Siskampling. Disemprot air sama tukang kebun gara – gara memanggilnya dengan sebutan “pak botak” dan masih banyak kekonyolan lainnya yang selalu membuat aku tertawa.
“Hey....kenapa lu ketawa – ketawa sendiri??? Udah gila ya?”, Radja melihatku tersenyum jika mengingat kejadian – kejadian konyol itu memegang dahiku. Menyamakan dengan suhu tubuhnya.
“Hus... apaan sih??!! Radj aku masih sehat... kurang ajar kamu ya????”, kutepis telapak tangan Radja dari dahiku.
‘Ya siapa tahu elu sudah gila, atau kesambet setan mana gitu Sat!”,
“Ye... enak saja...???!”
“Emang ada apa Sat Elu kok melamun gitu!!??”.
“Hemh...”, aku menghela nafas. “Nampaknya hidupku semakin nggak menarik Rajd. Aku ini seperti boneka”.
“Whattss..boneka??!!
“Ya... begitulah..!!”
“Hey broww...hidup kamu itu kurang apa sih? Bokap Elu tajir, punya perusahaan bonafid pula. Sopir pribadi ada. Semua fasilitas elu punya. Mobil, motor, laptop, blackbery, kolam renang. Mau apa juga tinggal tunjuk. Wajah elu jamil abis, yah... setingkat diatas gue lah. Terus kalau lagi kesepian...ada cewek elu kerdipin mata aja udah pada kelenger. Cewek mana juga yang nggak mau sama kamu sat??”.
‘Ya...justru itulah yang membuat hidupku semakin nggak menarik Radj??”, kini suasana mejadi sedikit serius. “Aku juga ingin kayak kamu Radj kayak anak – anak lainnya. Yang bebas menggapai yang di inginkan. Aku tak ada bedanya dengan anak umur 5 tahun yang selalu diatur ini dan itu. Apa lagi kedua orang tuaku. Mereka selalu ingin aku begini dan begitu. Aku bosan Radj ...Bosan??!!”.
“Seharusnya kamu bersyukur browww...??!! Kamu punya orang tua yang perhatian banget kayak gitu. Lha gue..., jangankan diperhati’in. Nyokap nyuruh makan aja nggak pernah..???!!”.
“Berartikan orang tua kamu sudah percara kalau kamu bisa mandiri Radj. Nggak kayak aku”.
“Broww percaya deh ama gue, orang tua kamu itu pengen yang terbaik untuk kamu. Jadi get had fun ajalah. Oke??”.
Aku hanya mengangkat alis, tanda setuju. Namun anganku masih melayang jauh disana. Di awang – awang ingin meraih kebebasan.
*
“Satria???!!”, suara papa begitu lantang dan terdengar begitu menggelegar saat aku menaiki tangga menuju kamar selepas pulang sekolah.
“Iya pa..??!”, jawabku datar.
“Kesini... papa ingin bicara dengan kamu”, nampaknya papa akan marah besar.
“Hemm..”, aku hanya melenguh. Lantas turun menghampiri papa. Sementara mama hanya berdiri disamping beliau dengan muka yang cemas.
“Tadi kamu kemana???”, papa mulai menginterogasiku.
“Tadi Satria ada acara pa!”.
“Acara apa...???? Apakah ada acara yang lebih penting dari les bahasa Jerman kamu. Ha..???!!!”.
“Ya.. acara disekolah. Tadi ada basket. Ya Satria ikut aja”.
“Basket??!! Acara apa itu??!! Mau jadi apa kamu ikutan acara nggak ada gunanya kayak begitu. Kalau kamu mau olah raga apa gunanya ruang fitnes yang papa buatkan untuk kamu.
“Pa..Satria sudah besar pa. Jadi Satria tahu mana yang baik dan mana yang nggak. Satria kan Cuma basket. Nggak minum alkohol ataupun merokok??!!”, aku coba membela diri karena aku bosan selama ini terpaksa harus membenarkan perkataan papa.
“Kamu sekarang sudah pintar membantah papa ya?”.
“Plakkkk..”, tamparan papa hinggap di pipi sebelah kananku. Aku jadi sedikit terkejut. Baru kali ini aku merasakan kekarnya tangan Raden sakti, pengusaha sukses yang tak lain adalah ayahku sendiri. Sontak mataku memerah memandang tajam ke arah papa.
“Pa..sudah pa..??!!”, mama panik menenengkan papa.
“Satria...cepat kamu naik keatas”lanjut mama menyuruhku.
Dengan perasaan hati yang begitu mendongkol aku melangkah naik. Didalam kamar ingin sekali rasanya aku berteriak sekeras – kerasnya. Masih teringat betapa paniknya mama dan papa saat dulu pertama kali aku mengikuti ekskul basket. Aku tergelincir dan akhirnya tulang lenganku patah. Mungkin karena itulah papa melarangku untuk mengikuti semua ekskul olah raga. Tapi semua ini tidak adil bagiku, mengapa kehidupanku seperti sebuah drama yang telah diatur skenarionnya.
“Brakkk..”, kupukul pintu kamarku. Perasaan benci, gemas, sebal, marah bercampur menjadi satu. Kulihat ada darah mengalir dari ujung tinjuku. Hatiku benar – benar mendongkol dibuatnya.
*
“Satria sayang...turun nak, lihat apa yang papa berikan untuk kamu”, suara mama terdengar dari bawah membangunkanku. Sore ini terasa sangat malas beraktifitas, sehingga aku lebih memilih untuk tidur dikamar.
“Sat...satria”, kembali mama memanggilku.
“Iya ma....”, dengan sangat malas aku mencoba bangun. Huah....”, aku menguap lebar – lebar. Kuseka air diujung mataku. Lantas aku turun .
“Satria...lihat diluar..”, mama menunjuk sesuatu diluar sana. Kulihat papa hanya tersenyum simpul. Aku masih bertanya – tanya ada apakah diluar sana.
“Ups”. Diluar kulihat mobil marcedes berwarna biru muda dengan gagahnya parkir dihalaman rumahku, tepat disamping mobil papa. Aku rasa mobil itu baru diambil dari sorum. Terus apa maksudnya???
“Lihat kan nak??, tanya mama
“Iya emang kenapa ma???”
“Itu hadiah dari papa, sebagai ucapan permintaan maaf karena papa telah menyakiti kamu??”, mama mengelus rambutku. “Iya kan pa??”, mama memandang kearah papa, disambut anggukan beliau.
“Pa... tapi kan papa nggak perlu ngasih mobil baru ke Satria. Mobil yang lama kan juga masih ada pa”.
“sudah nak terima saja. Inikan pemberian dari papa”.
“Hemh”. Aku hanya melenguh. Aku tak merasakan senang. Hatiku ini terasa semakin kosong. Entah kosong karena apa. Aku makin tak mengerti dengan kehidupan ini. Bisa juga dikatakan parah, karena aku sendiri tak tahu mengapa hatiku jadi begini.
Hari ini aku mencoba mobil pemberian papa. Tak seperti biasanya, aku selalu diantarkan oleh pak Man. Kali ini aku mencoba mengemudikan mobil itu sendirian. Dengan seijin mama aku menancap gas. Ada rasa senang saaat aku memasuki jalan raya. Tapi tiba...tiba...
“Ups sialan....”, aku terjebak lampu merah diperempatan sana. Kusandarkan punggungku dikursi. Ada sedikit rasa bosan diwajahku. Tak berapa lama segerombolan anak kecil datang menghampiriku, sebagian menghampiri mobil – mobil lain yang juga menunggu lampu hijau menyala. Kulihat 2 anak kecil, laki – laki dan perempuan langsung menyanyi dan memankan alat musik yang terbuat dari tutup botol minuman soda itu. Aku tak tahu apa namanya. Yang satu lagi bernyanyi sambil bertepuk tangan.
Aku mencoba tak menghiraukan mereka berdua, dan melempar pandang kearah lain. Disisi sana juga ada 2 anak kecil mengamen. Namun sial baginya, bukan uang yang didapatkan tapi malah orang dari dalam mobil itu menyiramnya dengan sebotol air mineral. Ia hanya tertunduk. Sementara itu temannya yang lain menarik bocah malang itu pergi menghampiri mobil yang lain. Makhluk semacam apakah yang ada didalam mobil itu. Sungguh tak memiliki rasa perikemanusiaan
Kupalingkan wajah, kedua bocah itu masih mengamen dimobilku. Aku tetap mencoba tak menghiraukan mereka. Tetapi semakin aku tak perduli, semakin kosong hatiku ini. Semakin kosong dan bertambah kosong. Apalagi ketika aku lihat 2 anak kecil itu dengan susah payah bernyanyi dibawah terik matahari. Beberapa kali kulihat keringat mencuri lewat di pipi mereka.
Mataku lekat memandang kearah 2 bocah itu. Hatiku bertambah kosong dan meminta untuk segera untuk diisi. Tiba – tiba saja tanganku bergerak mengambil 2 lembar uang 20 ribuan dari dalam dompet disaku celanaku. Kubuka kaca mobil dan kuserahkan kepada mereka. Kedua bocah cilik itu berhenti bernyanyi dan saling pandang.
“Mas, seribu saja mas. Ini kebanyakan”, ucap gadis cilik berkuncir lucu itu sembari mengembalikan uang pemberianku.
“Nggak apa – apa, ini buat kalian. Kalau kebanyakan nanti bisa dibagikan dengan yang lain”. Ucapku ramah.
“Beneran mas nggak apa – apa???”,sahut anak laki – laki yang berdiri disampingnya. Aku hanya mengangguk.
“Asyik.....!!”, kedua bocah itu melonak kegirangan. Entah mengapa sedikit demi sedikit hatiku menjadi terisi oleh senyuman mereka. Hatiku benar – benar merasa tentram. Aku tak tahu perasaan apakah ini. Yang jelas mereka telah mengisi kekosongan hatiku ini. Belum sempat kutanyakan nama mereka, lampu hijau sudah menyala. Terpaksa aku menarik mobilku. Meninggalkan mereka berdua.
Selepas kejadian itu, aku selalu terusik oleh bayangan mereka berdua. Bayangan anak – anak jalanan yang harus mencari uang untuk makan sendiri. Aku juga tidak tahu mengapa mereka harus seperti itu. Apakah mereka tidak mempunyai orang tua? Terus mereka tinggal dimana? Apakah mereka tidak bersekolah? Mau jadi apakah mereka kelak? Beribu pertanyaan menyeruak dipikiranku. Dan aku sendiripun tak mampu untuk menjawabnya.
“Satria ayo cepat....??!! ini papa mau mengajak kita makan di restauran Padang”, suara mama membuyarkan lamunanku. Aku tak menjawab. Namun aku langsung menuju kearah mama diruang keluarga. Disana papa dengan santai menikmati secangkir kopi buatan mama.
“Ada apa ma? Pa?”.
“Ini papa mau mengajak makan di Restaurant Padang langganan kita. Sudah lama kita nggak makan disana. Lagian mumpung papa nggak ada jadwal meeting diantor. Kan enak makan bertiga”.
Ingin sekali aku melonjak kegirangan karena jarang sekali kami bertiga makan malam bersama. Karena kesibukan papa oleh perusahaannya. Tapi.... mendadak aku teringat oleh kedua bocah di lampu merah kemarin.
“Emm...nggak usah deh ma. Kita makan dirumah saja”.
“Lho kenapa Sat?”, tanya papa menyelidik. Jarang – jarang aku menolak ajakan papa.
“Satria kepengen makan masakan buatan mama, satria ingin bantu mama masak. Ayo mah...”, mama hanya tersenyum bercampur heran melihat tingkahku yang sedikit aneh. Papapun hanya terbengong dengan responku.
*
“Satria ulang tahun kamu yang ke 18 nanti mau dirayakan dimana nak??”, tanya papa tiba – tiba.
“Ha...ulang tahun???”, aku sedikit berfikir. Oh iya sebentar lagi kan aku berulang tahun.
“Iya sat ulang tahun kamu mau dirayakan dimana?”, sahut mama.
“”Di Singapore kayak tahun kemarin apa mau di Hongkong kebetulan papa juga ada proyek disana.”, papa nampak bersemangat sekali. Namun aku hanya terdiam.
“Ayo Satria...., Papa kan tanya kamu”, tanya mama
“Emmm. Satria nggak mau ulang tahun satria dirayain di Singapore Ataupun Di Hongkong”, jawabku tegas. Nampaknya membuat papa dan mama terheran dengan responku.
“Lho memangnya kenapa? Kamu nggak suka. Atau kamu mau mengundang teman – teman kamu kerumah??!!”.tanya papa
Aku hanya menggeleng
“Lha terus nak??”.
Aku hanya tertunduk diam.
“Satria...mengapa akhir – akhir ini kamu selalu menolak ajakan papa. Selalu membantah perintah papa? Inikan juga untuk kebaikan kamu sendiri Sat!”. Nada suara papa jadi meninggi.
“Satria???!:”
“Pa...Ma...”, kini aku angkat bicara.
“Maafin Satria. Bukanya Satria mau membantah kata – kata papa, ataupun menolak ajakan papa. Tetapi Satria juga punya keinginan Pa...”, aku memandang kearah papa dan mama.
“Satria sudah besar pa..Ma.... Biarkan Satria mmeilih apa ayang terbaik untuk Satria. Selama ini papa yang selalu menentukan kebutuhan Satria. Satria nggak pernah memutuskan sendiri. Satria hanya menggantung bagi papa.
“Jadi selama ini papa ngggak memberikan yang terbaik untuk kamu, begitu Sat??”.
“Bukan begitu pa. Papa selalu memberikan Satria yang terbaik. Bahkan yang terbaik dari yang terbaik. Tapi Satria juga ingin belajar mengambil keputusan. Apakah selamanya Satria harus menunggu papa hanya untuk mengambil keputusan? Suatu saat nanti Satria juga harus mengambil keputusan sendiri pa. Kalau Satria nggak belajar dari sekarang. kapan lagi pa??
Entah ada energi dari mana aku mampu mengucapkan semua ini.
Kulihat papa dan mama hanya terdiam.
Tiba tiba mama memelukku.
“Iya pa..ternyata anak kita sekarang sudah besar. Dia bukan lagi Satria kecil yang cengeng pa???”, sambil terisak mama mengelus rambutku. Papa terdiam.
“Satria..”, papa angkat bicara. “Selama ini papa selalu khawatir dengan kamu, papa ingin yang terbaik untuk kamu, karena kamu adalah anak semata waayang papa. Maka dari itu papa selalu ikut campur dalam semua keputusanmu. Maafkan papa ya nak??”. Lantas papa bercampur memeluk kami berdua.
“Pa...Ma..Satria sayang kalian..?
Kami juga nak...”, sahut papa dan mama .
*
Di hari ulang tahunku ini. Papa memenuhi permintaanku. Hari ini mama membuat ratusan nasi bungkus untuk dibagikan kepada anak – anak pengamen di gang lampumerah sana, serta para pengemis dan gelandangan dijalan – jalan. Serta papa memesan ratusan bingkisan berisikan peralatan sekolah untuk dibagikan kepada beberapa panti asuhan, serta uang ala kadarnya untuk disumbangkan.
Kini hatiku telah terisi dengan penuh. Bahkan kini mampu tersenyum. Aku merasa hidupku sekarang telah lengkap. Tak lagi kosong. Kini telah kutemukan apa yang membuat hatiku kosong. Ternyata hati ini rindu. Rindu akan kasih sayang serta rindu akan senyum dan gelak tawa orang – orang membutuhkan disana. Serta aku telah mempu membutkikan bahwa aku bisa mengambil keputusan. Keputusan yang tepat untuk hidupku ini.
Dibawah pohon yang cukup rindang dipinggir jalan, aku mengajak papa, mama, mbok nah, pak man serta Radja sahabatku berhenti. Dengan beralaskan tikar kami memekan nasi bungkus yang kami buat. Tak terasa perlahan air mata membesahi ujung mataku. Aku sangat terharu. Aku sangat lahap memekan nasi ini. Nasi yang sama seperti anak – anak jalanan itu makan. Tak pernah kunikmati makanan seenak ini. Aku berbisik ditelinga papa dan mama.
“Pa...Ma..Satria sayang kalian berdua!!”.
18 Oktober 2009